Kombespol Leo: Pencegahan Intoleransi Radikalisme dan Terorisme

Pencegahan paham radikalisme bisa dimulai sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga, dilingkungan masyarakat pendekatan dan hidup bersosialisasi dengan warga sekitar, selain bisa meningkatkan toleransi antar sesama, juga mampu mencegah dontrin-doktrin radikal yg disebarkan secara tidak langsung

Intoleransi bisa muncul karena fanatisme pola pikir yang selalu membenarkan diri sendiri maupun golongan, kurangnya toleransi ataupun penghargaan atau kepercayaan pada agama yang ada di Indonesia, seperti halnya pemahaman radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan kekerasan, dengan paham fanatismenya biasanya dilakukan kelompok teroris untuk memecah keragaman ke Bhinekaan agama dan budaya di Indonesia.

Sebagai pengisi materi pencegahan intoleransi radikalisme dan juga terorisme, Kapolresta Malang Kota Kombespol Leonardus Simarmata menjabarkan Terorisme adalah serangan-serangan yang terkoordinasi bertujuan membangkitkan perasaan teror ke masyarakat, beda dengan perang pada umumnya, karena terorisme memilih korban maupun lokasi dan juga serangan-serangan yang diarahkan kepada kepada warga sipil.

KBP Leo yang juga lulusan program S3 doktor ilmu Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 2019 mengajak mahasiswa baru adikara 58 Universitas Brawijaya, dan mahasiswa sebagai masyarakat harus bisa menganalogikan bahwa awal terorisme adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat radikalisme, dengan disusupi ujaran atau perilaku intoleransi.
– Apakah kegiatan intoleransi pasti radikalisme belum tentu
– Apakah kegiatan radikalisme pasti menyebabkan terorisme itu belum tentu.
Jadi akar radikalisme ini sebenarnya adalah berawal dari pada intoleransi itu sendiri. (19/09/20)

Ada beberapa agama-agama lain yang juga menggunakan kekuatan – kekuatan radikal di dalam melakukan syiar agamanya seperti misalnya:
– Kristen ada saksi yehova
– Hindu ada Hindu hueva hueva hindi
– Budha di etnis Rakine Myanmar dari kelompok Ashin Wiratu.

Realita empiris keberagaman di Indonesia berasal dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai dengan pulau Rote, masuk dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika dan ideologi yaitu unity in diversity.
Dan sejak awal kemerdekaan Indonesia kita sudah mempunyai lebih dari 500 ras, lebih dari 700 jenis bahasa, terdapat 7 agama dan sejumlah aliran kepercayaan di Indonesia dan terdapat hampir 264 juta populasi yang tersebar di 17.000 pulau di Indonesia, saat ini masih menggunakan hukum positif mengacu pada UU RI nomor 5 tahun 2018 tentang perubahan undang-undang nomor 15 tahun 2003.

Beberapa konsep kunci yang sering disalah artikan oleh kelompok-kelompok radikal atau pun juga kelompok terorisme yang pertama seperti jihad qital ataupun peran, Darussalam, Darul Islam dan Darul Haq, ataupun Sahid, tauhid khilafah, Hijrah, Ansor atau Muhajirun dan Fa’i atau Gonimah.


Beberapa kasus terorisme yang terjadi dengan menggunakan ajaran-ajaran Islam yang disalah artikan ataupun disalahgunakan. Bentuk-bentuk radikalisme agama sbb :
a. Radikalisme muncul karena ketidaktahuan akan ajaran agama yang sebenarnya.
b. Radikalisme muncul karena semangat berlebihan dalam mengamalkan ajaran agama.
c. Radikalisme muncul karena keliru menilai perilaku umat beragama (kegagalan dalam memahami situasi sosial).
d. Radikalisme muncul karena adanya pengaruh dari luar negeri.

Bersama Polresta Malang Kota mari menciptakan dan menjaga Kota Malang lebih aman serta kondusif, dengan menghindari kegiatan atau aksi radikal dan paham-paham intoleransi

Author: Ancha